Minggu, 09 September 2018
BAGAIMANA CARA MENYUSUN PROPOSAL TESIS (TEKNIK INFORMATIKA)?
Saat
‘musim’ penyusunan tesis tiba, seorang mahasiswa dibingungkan oleh
pertanyaan di dalam dirinya “Apa sebaiknya judul yang saya pilih?”
“Kalau judulnya begini bagaimana ya? Kalau judulnya begitu bagaimana
ya?” Setelah bermenung berhari- hari untuk menemukan kata- kata judul
sedemikian rupa agar terlihat ‘keren’ dan ‘ngilmiyah’ akhirnya mahasiswa
mantap dengan judul penelitiannya dan dengan wajah berseri- seri
membawanya ke hadapan dosen pembimbing. Tetapi apa tanggapan pembimbing?
“Wah, ini tidak layak untuk tesis”, atau “Apa bedanya dengan proyek?”,
atau “Argumentasi Saudara tidak memadai.”, dan sebagainya. Dengan wajah
yang terlipat- lipat ‘kayak’ koran bekas ‘sumpel’ sepatu basah,
mahasiswa pulang dengan gontai. Beberapa hari kemudian setelah bermenung
lagi diperolehlah judul yang lebih ‘keren’ lagi dari sebelumnya. Tetapi
setelah diajukan ke pembimbing, tetap saja ditolak. Capeeee deee…
Hal
pertama yang harus disadari oleh si mahasiswa ini adalah “Jangan
berangkat dari judul!!!” Yang kedua, “Jangan berangkat dari
keingintahuan diri sendiri”, sebab sering terjadi hal yang ingin si
mahasiswa ketahui atau Saudara ketahui, itu sudah diketahui orang lain,
yang belum tahu hanya Saudara sendiri, nah. Oleh sebab itu hal pertama
yang dilakukan seharusnya bukan memilih judul, tetapi mengidentifikasi
masalah atau kesenjangan, merumuskan masalahnya, menentukan tujuannya,
kemudian barulah menentukan judul. Artikel berikut ini disusun dengan
ururtan berdasarkan sistematika angle tesis pada umumnya, namun
petunjuk- petunjuk rinci di dalamnya yang disertai contoh diharapkan
dapat membantu para mahasiswa yang menghadapi masalah dalam penyusunan
angle tesis.
JUDUL PENELITIAN
Judul Penelitian hendaknya spesifik, mengacu pada variabel/ objek/
model/ formula/ produk/ sistem; singkat dan padat (tidak lebih dari 20
kata) namun tetap komunikatif, mengacu pada hakekat penelitian, dan
menarik (penelitian tersebut layak dan perlu). Pada penelitian rekayasa,
hindari penggunaan kata- kata ’Perencanaan’, ‘Perancangan’,
‘Pembangunan’, ‘Pengembangan’, dan sejenisnya. Misal “Perancangan
Archetypal Pembelajaran Sistem Peredaran Darah Manusia dengan Metode
Permainan (Games)”. Kalau hasil penelitian ini berupa Model, maka
gunakan judul “Model Pembelajaran Sistem Peredaran Darah Manusia dengan
Metode Permainan (Games)”. Contoh lain, misalnya “Pembangunan Alat Bantu
Observasi Struktur Program….”, judul penelitiannya sebaiknya adalah
“Alat Bantu Observasi Struktur Program….”, karena hasil penelitiannya
berupa alat bantu. Pada penelitian nonrekayasa gunakan variabel, konsep,
teori, metode, atau kata kunci yang menjadi titik berangkat dan yang
menjadi kajian utama dalam penelitian tersebut. Hindari penggunaan
subjudul untuk menjelaskan ruang lingkup, karena ruang lingkup
penelitian seharusnya sudah jelas di bagian ‘Latar Belakang’, ‘Rumusan
Masalah’, atau ’Tujuan’. Hindari pula penggunaan ”Studi Kasus pada ……”
jika penelitian ini bukan penelitian dengan metode Studi Kasus, atau
dengan maksud hanya untuk menunjukkan lokasi penelitian.
A. LATAR BELAKANG
Latar belakang berisi tentang studi pendahuluan yang telah dilakukan
mahasiswa berkaitan dengan adanya masalah baik dari sisi masyarakat
maupun sisi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Masalah
muncul karena adanya kesenjangan, misal antara kebutuhan dengan
ketersediaan, antara harapan dengan kenyataan, antara standar dengan
ketercapaian, antara keingintahuan dengan jawaban dari iptek, dan
sebagainya. Kesenjangan pertama yang dijumpai dari sisi masyarakat atau
pengguna perlu diperdalam pembahasannya agar dapat dipastikan tidak ada
solusi lain selain melalui hasil penelitian ini nantinya. Konversi
proses chiral menjadi proses yang berbasis komputer perlu dilandasi
argumentasi yang kuat. Misal, proses pembelajaran ‘Sistem Tata Surya’
atau ‘Fusi Nuklir’ tidak mungkin dilaksanakan di kelas dalam skala
nyata, namun dengan pendekatan sistem berbasis komputer hal tersebut
dapat dilakukan. Berbeda dengan ‘Pembelajaran Instalasi LAN’. Sistem
pembelajaran berbasis komputer tak akan memiliki nilai lebih dibanding
praktikum di laboratorium. Perlu diingat bahwa penelitian harus
berangkat dari sesuatu yang accepted dan menghasilkan sesuatu yang
bersifat accepted pula, sekalipun masalah yang diangkat sangat spesifik.
Kesenjangan kedua yang berasal dari sisi pengembangan iptek merupakan
titik berangkat yang tidak boleh diabaikan dalam penelitian. Kesenjangan
ini dapat diperoleh melalui jurnal- jurnal hasil penelitian. Ada
kalanya suatu penelitian tidak dapat dilakukan dengan tuntas, atau masih
memiliki kelemahan. Lakukan studi guna melihat kemungkinan ada peneliti
lain yang sudah menyempurnakan kelemahan tersebut. Selain itu
kesenjangan dari sisi iptek dapat diidentifikasi melalui pengujian atau
evaluasi terhadap hasil- hasil iptek terbaik saat ini yang sesuai dengan
topik penelitian. Pengujian dilakukan berdasarkan indikator/ constant
standar sesuai teori yang ada. Contoh constant standar kualitas
perangkat lunak dari sisi transisi produk menurut McCall adalah
interoperability, reusability, dan portability. Lakukan pengujian
terhadap produk atau sistem berdasarkan constant tersebut. Bila tidak
ada satu pun perangkat lunak yang sesuai dengan topik penelitian dapat
memenuhi seluruh standar tersebut, maka ini peluang bagi mahasiswa untuk
melakukan penelitian bagi penyempurnaannya. Dengan demikian dapat
dipastikan hasil penelitian ini nantinya akan memiliki nilai tambah
dalam pengembangan iptek. Pada sisi lain kesanggupan memaknai suatu
phenomena berdasarkan empiri animal (indera), lojik, dan etik serta
penguasaan terhadap accompaniment of the art sesuai minat dan bidang
keahlian perlu dimiliki oleh setiap mahasiswa. Telaah pustaka atau studi
pustaka harus dilakukan sejak proses identifikasi masalah hingga
penulisan latar belakang ini. Pustaka yang ditelaah sebaiknya berasal
dari jurnal atau publikasi hasil- hasil penelitian terkini agar
accompaniment of the art diperoleh. Cantumkan referensi- referensi yang
digunakan dalam pembahasan masalah baik dari sisi masyarakat pengguna
maupun dari sisi pengembangan iptek.
B. RUMUSAN MASALAH
Keberhasilan dalam melakukan studi pendahuluan, seperti yang tertuang
dalam latar belakang, sangat menentukan ketajaman rumusan masalah.
Rumusan “Lambannya proses pencarian abstracts transaksi bulanan
berdasarkan klasifikasi tertentu”, belum dapat dikategorikan sebagai
rumusan masalah penelitian teknik informatika. Mahasiswa perlu melakukan
studi lebih mendalam terhadap mekanisme pencarian yang digunakan. Bila
ternyata kelambanan itu disebabkan oleh logika pencarian yang kurang
baik, lakukan kajian terhadap berbagai algoritma analytic terbaik saat
ini untuk menemukan kelemahannya. Apabila tidak ditemukan, maka
sebaiknya mencari topik yang lain. Namun bila dijumpai kelemahan
misalnya pada algoritma bifold search, rumuskan kelemahan algoritma
tersebut. Rumusan masalah yang berkaitan dengan belum adanya sistem,
alat bantu, atau archetypal tertentu yang dibutuhkan saat ini harus
disertai data, argumentasi yang memadai, dan berlaku secara umum, tidak
pada objek atau lokus tertentu. Misalnya “Belum tersedianya alat bantu
perencanaan anggaran daerah”, maka perlu didukung oleh referensi yang
menyatakan hal itu, bahwa di seluruh dunia alat bantu tersebut belum
pernah diciptakan. Bentuk rumusan masalah (problem statement) adalah
dalam kalimat deklaratif, tidak dalam bentuk kalimat tanya (research
question) seperti pada penelitian ilmu-ilmu sosial/ penelitian
kuantitatif (penelitian ilmu sosial pun tidak mengharuskan rumusan
masalahnya dalam bentuk kalimat tanya) (Dikti, 2006), melainkan dalam
bentuk pernyataan (state of the problem) yang merupakan rumusan dari
masalah- masalah yang telah terindentifikasi. Analysis Catechism sering
digunakan dalam penelitian kuantitatif, biasanya untuk memudahkan
penyusunan kalimat hipotesis. Meskipun demikian analysis catechism perlu
diawali dengan rumusan masalah yang jelas terlebih dahulu. Bila
penelitian berjenis nonrekayasa, bagian ini juga merupakan pendekatan
untuk penyelesaian masalah sehingga dapat dilengkapi pula dengan
definisi, asumsi, lingkup penelitian, dan hipotesis.
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Penelitian disusun berdasarkan rumusan masalah yang telah
ditetapkan sehingga bila tujuan penelitian tercapai, maka akan diperoleh
solusi bagi pengatasan masalah secara langsung. Tujuan penelitian juga
merupakan output/ ambition yang terukur sehingga evaluasi hasil dapat
diukur melalui ketercapaian tujuan penelitian ini. Hindari penggunaan
kalimat aktif, misal: ”Merancang ……..” atau “Membangun…..” sebab proses
merancang yang hanya sampai 50% saja sudah termasuk kategori merancang.
Hal ini berbeda bila digunakan kalimat “Terwujudnya rancangan …..”.
Kalimat ini lebih terukur karena bila rancangan tidak terwujud berarti
tujuan penelitian tidak tercapai. Penelitian dapat bertujuan untuk
menjajagi, menguraikan, membuktikan, menerapkan suatu gejala, konsep,
atau dugaan terutama pada penelitian nonrekayasa. Kalimat tujuan pada
jenis penelitian ini pun juga harus terukur sehingga peneliti dapat
mengukur dan menyajikan ketercapaian penelitiannya sendiri.
D. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian merupakan perkiraan bila tujuan penelitian tercapai.
Hal ini dapat diperkirakan melalui outcome/ dampaknya bagi masyarakat
dan dunia iptek. Paling tidak terdapat tiga nilai tambah yang harus
diberikan oleh suatu penelitian, yakni bagi masyarakat pengguna, bagi
pengembangan iptek, dan bagi peningkatan nilai ekonomi. Bila penelitian
berkaitan dengan kebijakan, misalnya jenis penelitian evaluasi, maka
perlu diuraikan pula manfaat bagi kebijakan institusi.
E. LANDASAN TEORI
Landasan teori berisi uraian teori, temuan, dan bahan penelitian
lainnya yang dijadikan landasan untuk menyusun kerangka teori atau
assemble yang akan digunakan dalam penelitian, berupa hubungan
antarvariabel/ objek yang mengacu pada rumusan masalah. Pada penelitian
rekayasa tinjauan terhadap penelitian- penelitian yang ada, teori-
teori, model, formula, dan sebagainya digunakan untuk menyusun kerangka
pemikiran yang dijadikan landasan dalam perencanaan, perancangan,
pembangunan, penerapan, atau pengembangan model, metode, konstruksi,
komponen, produk, atau sistem. Terdapat kemungkinan dimanfaatkannya
teori dari bidang ilmu lain, seperti formula, atau archetypal yang siap
direkayasa agar menjadi alat bantu, emulator, perangkat lunak aplikasi,
dan sebagainya. Kajian pustaka yang melandasi rekayasa didasarkan pada
accompaniment of the art (dari jurnal penelitian terbaru) maupun teori-
teori yang telah matang (dari textbook) yang diupayakan asli dari
sumbernya sehingga terdapat kemungkinan berasal dari tahun- tahun yang
sudah absolutist berlalu. Kelompokkan hasil- hasil kajian tersebut ke
dalam sub-subbab secara terstruktur (tidak linier) sesuai dengan
kerangka yang disusun berdasarkan topik atau judul penelitian. Bedakan
secara tegas antara teori dan definisi atau terminologi. Definisi maupun
terminologi yang sudah umum diketahui masyarakat TI tidak perlu
diuraikan lagi, misal pengertian tentang informasi, perangkat lunak,
abstracts breeze diagram, dan sebagainya. Bab landasan teori harus lebih
sarat dengan teori, postulat, hukum, dalil, aksioma, formula, asumsi
dan sebagainya yang mendukung pembentukan kerangka teori atau kerangka
pemikiran rekayasa. Oleh sebab itu sebenarnya penelitian sudah dapat
dikatakan selesai saat kerangka teori atau kerangka pemikiran diperoleh,
sekalipun belum dibuktikan. Sebagai contoh teori bigbang dan teori
relativitas sudah dikatakan sebagai teori sekalipun belum terbuktikan
karena berbagai keterbatasan yang ada. Namun bila tidak ada alasan yang
dapat dipertanggungjawabkan, maka semua kerangka teori atau kerangka
pemikiran rekayasa harus dibuktikan secara empiris sebagai bagian dari
kaidah ilmiah. Kerangka teori atau kerangka pemikiran yang telah
tersusun perlu ditulis dalam subbab tersendiri. Kerangka pemikiran
rekayasa perlu dilengkapi dengan ringkasan rumusan masalah sebagai
masukan pemikiran, dan ringkasan tujuan sebagai keluaran hasil pemikiran
yang sekaligus menjadi solusi. Lihat contoh berikut ini.
Kerangka
pemikiran ini merupakan rancangan penelitian guna penyelesaian masalah
sulitnya memahami affairs sumber suatu sistem besar yang ditulis dengan
bahasa fortran, dengan maksud untuk memahami dan memperoleh komponen-
komponen, fungsi, struktur, dan abstracts bagi keperluan penyempurnaan
sistem (reengineering). Dokumen rancangan tidak tersedia (alien code),
metode observasi belum ada, alat bantu observasinya pun juga belum
pernah diciptakan orang, sementara affairs yang ditulis dengan bahasa
fortran cenderung tidak terstruktur (spaghetti code). Diperlukan metode
dan alat bantu untuk mengobservasi affairs hingga diperoleh pemahaman
dan komponen- komponen, fungsi, struktur, dan abstracts untuk kemudian
direpresentasikan ke dalam bentuk diagram (action diagram). Berdasarkan
teori, model, dan metode tentang about-face engineering peneliti
menyusun kerangka tersebut di atas. Dari kerangka pemikiran tersebut
tampak bahwa masalah yang muncul dapat terselesaikan dengan pendekatan
dan fungsi yang disusun sehingga dihasilkan metode dan alat bantu
observasi struktur program.
F. METODE PENELITIAN
Metode penelitian dapat pula diartikan sebagai prosedur, alat-alat, dan
bahan yang digunakan dalam penelitian yang bersifat khas dan khusus
untuk penelitian yang dirancang. Sehingga apabila metode ini dilakukan
sekali lagi oleh peneliti yang berbeda, maka akan diperoleh hasil yang
sama dengan peneliti sebelumnya. Ini sesuai dengan prinsip objektivitas
dalam pandangan positivisme. Apabila metode ini dapat digunakan juga
oleh peneliti lain untuk menyelesaikan masalah yang berbeda (bukan objek
atau lokus yang berbeda) sehingga kemudian menghasilkan sesuatu yang
berbeda pula, maka
metode tersebut tidak tepat, terlalu umum, dan
tidak khas. Metode penelitian disusun dengan mengacu pada kerangka
pemikiran atau kerangka teori yang telah dibentuk. Alat, bahan, dan
prosedur yang dilakukan dalam penelitian perlu dicantumkan dengan jelas
dan rinci. Demikian pula model, variabel, construct, definisi
operasional, teknik pengumpulan data, teknik analisis, cara penafsiran,
dan penyimpulan hasil penelitian harus khas untuk penelitian tersebut.
Hal ini dapat diperoleh bila peneliti secara konsisten mengikuti
kerangka pemikiran atau kerangka teori yang telah diperoleh, yang
memiliki benang merah dengan landasan teori, tujuan, masalah, dan latar
belakang penelitian.
G. JADWAL PENELITIAN
Jadwal penelitian disusun berdasarkan aktivitas yang terkandung dalam
metode penelitian. Aktivitas ini adalah aktivitas yang direncanakan
dilakukan bila angle penelitian disetujui. Lengkapi jadwal ini dengan
waktu mulai dan berakhirnya setiap aktivitas.
DAFTAR PUSTAKA
Halaman ini berisi pustaka/acuan yang digunakan dalam penyusunan angle
yang tersebut di latar belakang hingga kerangka pemikiran atau kerangka
teori. Bila terdapat lampiran-lampiran, maka lampiran tersebut
diletakkan setelah Daftar Pustaka.
Dikti,
2006, Buku Panduan Pelaksanaan Hibah Penelitian, Pengabdian kepada
Masyarakat dan Affairs Kreativitas Mahasiswa Edisi VII (2006), Jakarta:
Direktorat Penelitian Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M), Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi
Stefanus S., 2005, About-face
Engineering - Teori dan Aplikasi, Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, ISBN :979.704.311.8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar